TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Stroke tetap menjadi salah satu penyebab kematian dan disabilitas tertinggi di Indonesia, dengan ratusan ribu kasus yang sering kali berakhir pada kecacatan permanen akibat keterlambatan penanganan.
Sementara itu, data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2021, stroke menjadi penyebab kematian dan kecacatan ketiga terbesar di dunia, dengan perkiraan 93,8 juta kasus. Pada tahun 2021, tercatat 11,9 juta kasus stroke baru.
Risiko terkena stroke seumur hidup telah meningkat sebesar 50 persen selama 20 tahun terakhir, dengan perkiraan 1 dari 4 orang dewasa akan mengalami stroke dalam hidupnya.
Dalam kondisi stroke iskemik akut, setiap menit sangat menentukan karena sel otak dapat rusak secara cepat ketika aliran darah terganggu.
Penanganan kondisi ini membutuhkan tindakan medis segera untuk membuka kembali aliran darah ke otak.
Tanpa respons yang cepat, kerusakan sel otak dapat terjadi dalam hitungan menit dan berdampak pada fungsi tubuh secara permanen.
"Dalam penanganan stroke, kecepatan dan ketepatan sangat krusial. Sistem yang terkoordinasi dan sesuai standar internasional dapat meningkatkan peluang pemulihan pasien secara signifikan," ujar Direktur Rumah Sakit SHLV, dr. Erick Prawira Suhardhi, MARS, Sabtu (9/5/2026).
Fasilitas rumah sakit dengan kesiapan sistem stroke menjadi faktor yang sangat menentukan dalam meningkatkan peluang pemulihan pasien.
Misalnya rumah sakit yang yang memiliki penanganan stroke yang terintegrasi, mulai dari respons kegawatdaruratan, diagnosis cepat, hingga intervensi medis dan rehabilitasi sesuai dengan sertifikasi Clinical Care Program untuk Acute Ischemic Stroke dari Joint Commission International (JCI).
Standar internasional tersebut menilai konsistensi tim medis dalam menjalankan protokol berbasis bukti guna menghasilkan hasil klinis yang optimal bagi pasien.
Baca juga: Leher Sempat Miring usai Serangan Stroke, Aldi Taher Ungkap Kondisi Kesehatan Sang Ibu
Kesiapan sistem tersebut mencakup kriteria ketat terkait kecepatan respon dan koordinasi multidisiplin.
dr. Erick, menambahkan bahwa keberhasilan penanganan stroke sangat bergantung pada kolaborasi tim yang terkoordinasi.
Sebagai pusat layanan neuroscience, penanganan dilakukan oleh tim multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis saraf, bedah saraf, radiologi, hingga rehabilitasi medik.
Dukungan teknologi medis terkini serta protokol klinis yang terstandarisasi memungkinkan penanganan stroke dilakukan secara berkesinambungan sejak fase akut hingga masa pemulihan.
Upaya ini diharapkan dapat memberikan akses layanan kesehatan berstandar global bagi masyarakat Indonesia agar tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.