TRIBUNMANADO.CO.ID - Hasil survei Intelligent yang melibatkan lebih dari 200.000 responden sepanjang satu tahun terakhir mengungkap alasan mengapa banyak perusahaan memilih memberhentikan karyawan dari Generasi Z hanya dalam beberapa bulan setelah mereka mulai bekerja.
Data tersebut menunjukkan bahwa enam dari sepuluh perusahaan memutuskan memecat pekerja Gen Z dalam waktu singkat setelah perekrutan.
Gen Z (Generasi Z) adalah kelompok orang yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012.
Mereka dikenal sebagai digital native pertama, yaitu generasi yang tumbuh besar dengan teknologi internet dan media sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari USA Today, Sabtu (9/5/2026), Profesor Suzy Welch dari New York University menilai kondisi ini terjadi karena adanya benturan nilai antara generasi muda dengan tuntutan dunia kerja saat ini.
Melalui alat analisis bernama The Values Bridge, Welch menemukan bahwa hanya sekitar 2 persen Gen Z yang memiliki nilai dan pola pikir yang dianggap sejalan dengan standar para manajer perekrutan.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar Gen Z tidak menempatkan pencapaian karier dan fokus penuh pada pekerjaan sebagai prioritas utama.
Sebaliknya, mereka lebih mengutamakan perawatan diri, autentisitas, dan kepedulian sosial.
Menurut Welch, perbedaan cara pandang inilah yang menjadi akar persoalan.
Generasi Z cenderung menilai penting keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, menjaga kesehatan mental, serta kebebasan mengekspresikan diri.
Di sisi lain, perusahaan lebih menitikberatkan pada pencapaian target, produktivitas tinggi, dan semangat untuk terus belajar dalam lingkungan profesional.
Welch menegaskan bahwa nilai-nilai yang dimiliki Gen Z bukanlah sesuatu yang keliru.
Namun, pilihan tersebut tetap membawa konsekuensi nyata dalam dunia kerja.
Ia menjelaskan bahwa kondisi itu bisa membuat banyak Gen Z tidak memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah mereka maupun jalur karier tradisional yang selama ini dianggap ideal.
"Mereka mungkin tidak mendapatkan pekerjaan sesuai jurusan kuliah atau ekspektasi karier tradisional,"jelasnya.
Data Federal Reserve New York pada akhir 2025 menunjukkan tingkat pengangguran lulusan baru mencapai 5,7 persen, lebih tinggi dibanding kelompok usia lain.
Adapun faktor penyebabnya antara lain; perubahan struktural perusahaan, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menggeser kebutuhan tenaga kerja, serta banyaknya lulusan berbakat kesulitan mendapatkan pekerjaan meski memiliki kemampuan akademik yang baik.
Hal ini memperlihatkan bahwa nilai dan sikap kerja kini sama pentingnya dengan ijazah.
Generasi Z menolak pola kerja generasi sebelumnya yang dianggap tidak menjamin stabilitas hidup.
Mereka melihat orang tua yang kehilangan pekerjaan di usia produktif sebagai bukti bahwa loyalitas dan kerja keras tradisional tidak selalu berbuah manis.
Karena itu, Gen Z lebih memilih jalan hidup yang menekankan keseimbangan, kesehatan mental, dan kebebasan.
Namun, sikap ini membuat mereka sering berbenturan dengan ekspektasi perusahaan yang masih berorientasi pada target dan kemenangan.
Welch menyarankan agar Gen Z tidak perlu mengubah prinsip hidup mereka. Namun, mereka harus siap menerima konsekuensi dari pilihan tersebut.
Di sisi lain, perusahaan juga ditantang untuk beradaptasi dengan nilai-nilai baru generasi muda.
Solusi yang mungkin dilakukan ialah adaptasi perusahaan dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih fleksibel.
Fleksibilitas Gen Z dalam membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan, tidak hanya terpaku pada jalur sesuai jurusan kuliah.
Oleh karena itu, Profesor New York University (NYU), Suzy Welch menilai, dari temuan tersebut memperlihatkan apa yang sedang terjadi di dunia kerja saat ini. Nilai-nilai yang dianut Gen Z melalui alat bernama The Values Bridge guna memetakan prioritas hidup seseorang berdasarkan nilai, bakat, dan minat.
"Dari data menunjukkan hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Dari 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan, hanya 2 persen yang memilikinya itu angka yang sangat besar," kata Welch.
Tiga hal utama yang paling dijunjung Gen Z ialah perawatan diri, kebebasan mengekspresikan diri secara autentik, serta keinginan membantu orang lain.
"Bagi para manajer perekrutan, nilai nomor satu yang mereka cari adalah prestasi, keinginan untuk menang. Nilai nomor dua yang mereka cari adalah fokus pada pekerjaan, keinginan untuk bekerja," jelas Welch.
"Ketiga adalah ruang lingkup, yaitu keinginan untuk belajar, beraktivitas, dan berpetualang yang umumnya, saya akan menerjemahkannya di tempat kerja sebagai perjalanan," imbuh dia.
Welch menyebut, pekerja muda beranggapan bahwa pola kerja generasi sebelumnya tidak selalu menghasilkan kehidupan yang stabil. Karenanya, mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibandingkan mengejar karier secara agresif.
"Gen Z pada dasarnya mengatakan 'Saya tidak suka aturan-aturan itu. Itu adalah nilai-nilai Anda dan itu tidak berjalan dengan baik untuk generasi Anda. Saya tidak akan menerimanya. Orangtua saya memiliki nilai-nilai itu dan mereka menganggur pada usia 54 tahun'," tutur dia.
"Jika mereka mempertahankan prinsip yang seharusnya mereka pertahankan tidak seorang pun boleh mengubahnya. Mereka harus memahami bahwa ada konsekuensinya dan tidak akan mendapatkan jenis pekerjaan yang mungkin telah dipersiapkan sesuai gelar sarjana mereka,"jelas dia kemudian.
(*/Tribun-medan.com)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.