Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baruTRIBUN-VIDEO.COM - Ashari, tersangka pencabulan terhadap santriwati di Pondok Pesantren di Kecamatan Tlogowungu, Pati diamankan polisi dalam pelariannya ke Kecamatan Purwantoro, Wonogiri Kamis (7/5/2026). Lokasi persembunyian Ashari bukan tempat biasa.Ashari memilih sebuah lokasi yang dianggap sakral oleh sebagian orang, yakni Gedong Giyono yang merupakan Komplek Makam Raden Gunungsari.Menurut keterangan warga, lokasi yang terletak di Dusun Wotgalih, Desa Bakalan itu kerap dijadikan tempat "panyuwunan" atau tempat untuk meminta bagi yang punya hajat entah apapun itu.Lokasinya berada di atas bukit, jauh dari pemukiman ramai warga, sekira 2 kilometer.Hanya ada beberapa rumah warga di dekat petilasan itu. Jalan menuju ke sana menanjak terjal dan berkelok.Di sana, Ashari menginap di rumah warga bernama Tejo yang memang kerap digunakan para peziarah beristirahat.Jaraknya kurang lebih 200 meter dari petilasan tersebut.Awal Kedatangan si Kiai CabulKepada TribunSolo, Tejo menceritakan kronologi kedatangan buronan polisi itu.Pada Rabu (6/5/2026) pagi, Ashari tiba di rumahnya dengan diantar oleh warga.Warga itu awalnya melihat Ashari di pemukiman selepas subuh.Ketika ditanya tujuannya adalah ke Gedong Wiyono.Warga itu kemudian menawarkan diri mengantar."Datang pertama itu kan “kulo nuwun” saya persilahkan masuk, yang mengantar kok Mas Sidam, tetangga," ujarnya.Saat ditanya, Ashari mengaku dirinya bernama Samsuri yang berasal dari Semarang.Pengakuan Ashari, tujuannya kesana satu, menjalankan "tugas" dari gurunya."Namanya Samsuri, dari Semarang. Kesini perlunya apa katanya disuruh gurunya menjalankan tiga tahun puasa. Sudah dapat tiga bulan disuruh napak tilas kesini, petilasanya Gusti Wali di Gedong Wiyono," jelas Tejo.Saat itu, Tejo dengan keramahannya menyambut Ashari layaknya tamu biasa.Ia sempat menawarkan kopi kepada Ashari, namun tawaran itu ditolak.Ashari mengaku masih berpuasa sehingga enggan menerima tawaran kopi itu.Di situ, Ashari meminta izin kepada Tejo untuk tinggal sementara waktu."Minta maaf katanya tidak diberi uang saku oleh gurunya, minta tolong tinggal sementara disini," ujarnya.Timbul KecurigaanMalam harinya, Ashari sempat meminta izin untuk meminjam sepeda motor Tejo pada esok hari pukul 03.00 WIB dengan alasan ingin menemui temannya di Purwantoro.Tak ada prasangka apapun, Tejo mengizinkan motornya dipinjam oleh Ashari.Namun malam itu, kecurigaan Tejo mulai muncul.Pasalnya, Ashari mematikan beberapa lampu di rumah itu, mulai dari kamar, ruang tengah dan teras."Lampu itu dimatikan semua, saya tanya kenapa dimatikan? Katanya biar tidak silau, karena tidak bisa tidur. Saya mulai curiga disitu," ujarnya.Kecurigaan Tejo mulai terjawab, sekira jam 03.00 WIB, Ashari pergi menggunakan motornya, namun tas Ashari masih ditinggal di kamar rumah Tejo."Kalau cerita tetangga, Samsuri mau turun, polisi dari bawah mau naik, terus dia menghindar belok ke kiri ke rumah warga. Belum pernah kesini jadi tidak tahu jalan akhirnya ditangkap polisi," ujarnya."Ndelalah bertemu polisi pas sudah di bawah dan ditangkap dan dibawa ke mobil dibawa kesini. Polisi kesini ngabari saya, tanya keperluan Samsuri apa, saya jawab tidak tahu. Tasnya kemudian digeledah, isinya sabun dan baju ganti, tidak ada uang, hp tidak ada," jelas dia.Jawaban polisi membuat Tejo kaget, ternyata seharian ia menerima tamu yang tidak biasa, seorang buron kasus berat yakni pencabulan."Kaget saya masalahnya apa, dijawab katanya buron sudah lama, pelecehan santri. Saya sendiri terkejutnya kok tidak cocok sama omongannya pertamanya pas kesini, tidak menyangka," aku Tejo.Ia mengaku menyesal telah menerima Ashari dengan sangat baik di rumahnya.Bahkan, Ashari juga disiapkan kamar khusus."Ya menyesal, jelas menyesal. Omongan dan kenyataan tidak sesuai, hanya berjarak semalam kemudian ditangkap polisi. Pas datang bilang baik-baik malah seperti itu," imbuhnya.Tejo memang tak menaruh curiga, selain rumahnya kerap digunakan para peziarah singgah, Ashari juga sempat menunjukkan KTP-nya."Saya tidak curiga, sudah lihat KTPnya, cuma pas diminta tidak boleh saya pegang. Pertamanya ya tidak curiga. Mulai curiga sore itu, sama malam itu lampu dimatikan semuanya, padahal baru jam 20.00," urainya. (*)Artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Kisah Pelarian Kiai Ashari ke Wonogiri: Gagal Beli Motor Bekas Uang Kurang Rp 700 Ribu, https://solo.tribunnews.com/solo-raya/342019/kisah-pelarian-kiai-ashari-ke-wonogiri-gagal-beli-motor-bekas-uang-kurang-rp-700-ribu?page=all.Program: Saksi KataSumber: Tribun SoloEditor: Akmal Khoirul Habiib#saksikata #Ashari #Pati #Wonogiri #Tlogowungu #Pesantren #KasusPencabulan #BuronanPolisi #GedongGiyono #BeritaViral #KiaiCabul #kriminal #kiai #santri #pelecehanseksual #pondokpesantren #kiaiashari
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.