TRIBUNMATARAMAN.COM, NGAWI - Dugaan perkara pencabulan santriwati oleh kiai di Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi terkuak. Tiga santriwati yang menjadi korban D (50) berani angkat bicara setelah didampingi komunitas sosial spiritual, Yakuza Maneges.
Sekretaris Yakuza Maneges Ngawi, Dwi Kurniawan Maarif menjelaskan informasi tersebut pertama kali ia dapatkan dari seseorang yang mengetahui kondisi internal yayasan dan pondok pesantren tersebut.
Maarif menyebutkan informannya sebenarnya telah mengetahui dugaan perbuatan bejat sang pengasuh sejak tahun 2018 hingga 2019.
Namun saat itu korban belum berani melapor dan memilih untuk mengumpulkan barang bukti demi memperkuat dugaannya tersebut.
Baca juga: Viral Pocong di Kediri Bikin Heboh, Polisi Ungkap Sosok Sebenarnya
"Orang tersebut sebenarnya sudah mengumpulkan bukti-bukti sejak lama, tetapi korban masih takut untuk membuka suara," ujar Maarif, Minggu (24/5/2026).
Setelah menerima laporan itu, Yakuza Maneges Ngawi langsung berkoordinasi dengan Yakuza Maneges pusat di Kediri untuk menyusun langkah pengungkapan kasus.
Tim kemudian bergerak mencari bukti tambahan sekaligus mendekati para korban agar bersedia memberikan keterangan.
Menurut Maarif, tantangan terbesar dalam pengungkapan kasus tersebut adalah membangun keberanian dan mental para korban yang selama ini diliputi trauma.
"Kebanyakan korban takut. Takut prosesnya rumit dan takut terjadi sesuatu pada dirinya. Jadi kami pelan-pelan mendekati dan memberikan dukungan supaya mereka berani melapor," katanya.
Pendampingan dilakukan secara persuasif oleh tim, termasuk anggota perempuan Yakuza Maneges yang mencoba mendekatkan diri sebagai teman korban.
Dengan pendekatan tersebut, tiga korban yaitu P (21), Z (21), dan D (21), perlahan mulai terbuka dan menceritakan pengalaman yang dialaminya.
Maarif mengaku saat pertama kali bertemu, kondisi psikologis korban masih terguncang. Korban disebut kerap menangis setiap kali melihat wajah terduga pelaku yang masih sering muncul di media sosial.
"Trauma itu pasti ada. Setiap melihat wajah pelaku di media sosial, korban menangis dan merasa tidak tenang," ungkapnya.
Namun setelah beberapa waktu mendapat pendampingan, kondisi korban mulai membaik. Mereka disebut sudah kembali ceria dan lebih tenang menjalani aktivitas sehari-hari.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat proses pendampingan dilakukan, seluruh santri perempuan di pondok pesantren tersebut sudah tidak lagi tinggal di lokasi. Hal itu dipicu isu dugaan pelecehan yang sebelumnya telah beredar di kalangan masyarakat dan alumni pondok.
"Santri perempuan sudah tidak ada semua di sana. Jadi saat kami mulai bergerak, kondisinya memang sudah sepi," jelasnya.
Baca juga: Kecelakaan Libatkan 3 Kendaraan di Depan SMAN 1 Papar, Pengendara Motor Meninggal di Lokasi
Dalam proses pengungkapan kasus, Yakuza Maneges Ngawi bertugas mengumpulkan bukti dan mendampingi korban di lapangan.
Sementara koordinasi dengan Polres Ngawi dilakukan oleh tim pusat organisasi tersebut.
Kini perkara tersebut telah ditangani Satreskrim Polres Ngawi, sementara D diketahui telah ditetapkan sebagai tersangka.
Meski proses hukum telah berjalan, Yakuza Maneges memastikan tetap memberikan pendampingan psikologis kepada para korban agar dapat pulih dari trauma yang dialami.
"Kami akan terus mengawal supaya kasus ini berjalan sesuai hukum yang berlaku dan korban tetap mendapatkan pendampingan," pungkasnya.
(Sofyan Arif Chandra/Tribun Jatim Network)
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.