TRIBUNJATIM.COM - Sosok Bagas Amar Hakiki putra sulung dari satu keluarga yang tewas saat glamping.
Meninggalnya Bagas membuat Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Keraton Yogyakarta berduka.
Semasa hidup, Bagas dikenal sebagai sosok yang ramah dan berprestasi.
Ia juga dikenal suka membantu.
Baca juga: Kronologi Satu Keluarga Tewas saat Glamping di Posong, Rekan Syok Merasa Kehilangan
Bagas pada Agustus 2026 ditargetkan akan wisuda.
Namun takdir berkata lain.
Ia meninggal bersama keluarganya di sebuah tenda glamping.
Bagas diketahui merupakan fotografer Keraton Yogyakarta.
Ia juga merupakan mahasiswa Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Hal itu diungkap oleh Pengajeng Hudyanawara Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Nyi RW Kartiutami Guritno.
Ia menyebut Bagas sebagai forografer yang bisa diandalkan di Kawedanan Tandha Yekti Kraton Yogyakarta.
Pada tahun 2024 silam, Bagas menjadi peserta magang di Kawedanan Tandha Yekti.
Karena memiliki kepiawaiannya memegang kamera, Bagas didapuk mejadi fotografer lepas dari tim dokumentasi Kawedanan Tandha Yekti.
"Mas Bagas salah satu fotografer kami di Kawedanan Tandha Yekti. Jadi Bagas ini sebenarnya awalnya salah satu peserta program magang di Kawedanan Tandha Yekti tahun 2024," katanya, Kamis (28/5/2026).
"Lalu kemudian dari magang tersebut, kami melihat keahlian fotografinya yang mumpuni, sehingga kemudian setelah masa magangnya 1 tahun selesai, Bagas bersama 2 orang teman lainnya menjadi bagian dari tim dokumentasi KTY sebagai fotografer lepas," sambungnya.
Ia menyebut Bagas merupakan sosok yang senang membantu dan bisa diandalkan.
Kepribadian Bagas yang menyanangkan membuat Kawedanan Tandha Yekti merasa sangat kehilangan.
Kawedanan Tandha Yekti kehilangan fotografer terbaiknya.
Meski berstatus fotografer lepas, namun Bagas masuk dalam tim inti dokumentasi.
"Bagas kami kenang sebagai pribadi yang senang membantu, bisa diandalkan, dan menyenangkan. Kami sangat kehilangan sekali, bukan hanya kehilangan salah satu fotografer terbaik kami, tapi juga kolega, rekan, adik, sahabat baik," imbuhnya.
Bagas merupakan mahasiswa berprestasi Program Studi Bahasa dan Sarjana Perancis, Fakultas ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang masuk pada 2022.
"Telah berpulang kepada Sang Pencipta Bagas Amar Hakiki pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Segenap Keluarga Besar Bahasa dan Sastra Prancis, Fakultas ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada mengucapkan turut berduka cita atas bepulangnya almarhum kehadapan-Nya.
Atas kembalinya beliau, semoga almarhum dapat menerima rida di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta pihak keluarga dapat mengikhlaskannya," tulis dalam caption.
Diketahui, korban meninggal bersama keluarganya yakni kedua orang tuanya yakni Muhamad Ali Munawar (52), dan ibunya Maghfirah (43), serta adiknya Alvino Evan Hakim (16) yang masih berstatus pelajar di dalam tenda Glamping Safari Nomor 3, Rabu (27/5/2026) sore.
Kerabat korban, Asadi (51), di rumah duka di Desa Kebumen, Kec Banyubiru, Kab Semarang, menyebut Bagas sudah merencanakan bisa wisuda pada Agustus 2026 nanti.
"Skripsinya hampir selesai dan Bagas juga menargetkan bisa ikut wisuda UGM, pada bulan Agustus nanti. Tapi, Allah berkehendak lain dalam musibah bersama keluarganya tersebut," ungkapnya.
Di depan rumah duka, terpasang karangan bunga duka cita kiriman Prodi Bahasa dan Sastra Inggris UGM bersama karangan bunga lainnya.
Jenazah satu keluarga tersebut ditemukan terbujur kaku oleh petugas, Rabu (27/5/2026).
Saat itu, petugas mendatangi tenda keluarga tersebut untuk meminta check out sekitar pukul 11.45 WIB.
Namun kala itu tidak ada respon dari penghuni tenda.
Petugas kemudian mendatangi tenda sekitar pukul 15.00 WIB dan akhirnya membuka tenda tersebut.
Saat dibuka, keempatnya diketahui sudah meninggal dunia.
Kesaksian: Munawar Sempat Serahkan Hewan Kurban, Sang Anak Hendak Wisuda
Di sisi lain, cerita pilu diungkap oleh adik sepupu Ali Munawar, Muhammad Faerudin, di mana korban sempat menyerahkan hewan kurban sehari sebelum Idul Adha 2026.
"Sebelum pergi sempat menyerahkan satu kambing kurban untuk musala di lingkungan Bendosari," jelasnya di rumah duka di Dusun Bendosari, Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.
Semasa hidup, Faerudin mengatakan bahwa Munawar memang sosok yang dermawan.
Selain itu, Munawar telah pindah bersama keluarganya dan tinggal di Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.
Kendati demikian, Munawar masih kerap mengunjungi Dusun Bendosari meski hanya sepekan sekali untuk mengecek kebun anggur dan alpukat miliknya.
"Tidak hanya Ali dan Fira, anak-anaknya, Bagas dan Alvino, juga cukup baik dengan warga di lingkungan Dusun Bendosari ini," jelasnya.
Kerabat lainnya, Asadi (51), mengungkapkan anak sulung Munawar, Bagas Amar Hakiki, akan menjalani wisuda pada Agustus 2026.
Dia mengatakan Bagas merupakan mahasiswa Sastra Prancis di Universitas Gadjah Mada (UGM).
"Skripsinya hampir selesai dan Bagas juga menargetkan bisa ikut wisuda UGM pada Agustus. Tapi Allah berkehendak dalam musibah bersama keluarganya tersebut," ungkapnya.
Sementara, adik Bagas, Alvino Evan Hakiki, terkenal aktif dalam kegiatan olahraga taekwondo.
"Dia salah satu atlet muda Pengkab Taekwondo Indonesia Kabupaten Semarang," tambahnya.
Kasat Reskrim Polres Temanggung, Iptu I Komang Mahendra Putra, mengatakan pada keesokan harinya, ada momen ketika petugas glamping dari tempat wisata tersebut mengantarkan sarapan ke tenda korban.
Namun, saat dipanggil, tidak ada jawaban dari para korban.
Setelah itu, pada Rabu siang sekitar pukul 11.45 WIB, petugas kembali ke tenda korban untuk mengingatkan agar segera berkemas karena lokasi perkemahan mau dibersihkan.
Lagi-lagi, tidak ada jawaban dari para korban.
"Pada keesokan harinya, Rabu (27/5/2026) sekitar pukul 11.45 WIB, petugas wisata sempat mengingatkan para korban untuk segera melakukan proses check out karena lokasi area perkemahan akan dibersihkan. Namun, saat itu tidak ada respons dari dalam tenda," jelas Komang, Kamis (28/5/2026).
Kecurigaan dari petugas pun muncul dan berujung kembali mendatangi tenda korban sekitar pukul 15.00 WIB.
Lalu, petugas pun membuka pintu tenda dan menemukan seluruh korban telah meninggal dunia dalam kondisi kaku.
Komang menuturkan tidak ditemukan tanda kekerasan di tubuh para korban.
"Hasil pemeriksaan unit Inafis dan tim medis dari Puskesmas Kledung, kondisi camping atau tenda rapi, keempat jenazah tidak terdapat tanda-tanda kekerasan, kondisi keempat tangan jenazah menggenggam," jelasnya.
Komang menuturkan, berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, para korban meninggal dunia diduga akibat keracunan makanan.
Hal ini berdasarkan uji laboratorium terhadap hidangan barbeque yang dibawa sendiri oleh para korban saat berkemah.
Demi memastikan penyebab kematian, Komang mengungkapkan pihaknya melakukan autopsi terhadap korban.
"Untuk dugaan pasti penyebab kematian, kami belum berani mengonfirmasi karena saat ini proses autopsi masih berjalan, begitu juga dengan pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jateng," kata Komang.
Glamping adalah singkatan dari glamorous camping (berkemah mewah).
Liburan ini memadukan camping dan fasilitas hotel modern.
Hal ini membuat wisatawan bisa menikmati suasana berkemah tanpa repot mendirikan tenda.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.