TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Penurunan cakupan imunisasi campak-rubella di Indonesia kini menjadi perhatian serius kalangan medis. Fenomena disinformasi dan keraguan masyarakat terhadap keamanan vaksin ditengarai menjadi pemicu utama merosotnya angka kekebalan kelompok di tanah air.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), dr. Sukamto Koesnoe, mengungkapkan bahwa angka imunisasi saat ini masih jauh dari target global untuk mencapai herd immunity (kekebalan kelompok).
Berdasarkan data terbaru, cakupan imunisasi campak-rubella dosis pertama mengalami penurunan signifikan dari 92 persen pada 2024 menjadi hanya 82 persen pada 2025.
Angka ini terpaut jauh dari standar minimal Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) yang menetapkan angka 95 persen.
“Bahkan sebelumnya, angka 92 persen itu sebenarnya belum memenuhi target WHO. Sekarang justru turun lagi menjadi 82 persen. Ini tentu menjadi perhatian,” ujar dr. Sukamto dalam PAPDI Forum di Jakarta, baru-baru ini.
Ia pun menyoroti fenomena kelompok antivaksin yang meskipun jumlahnya tidak besar, namun memiliki dampak luas karena penyebaran informasi yang sangat cepat di media sosial.
“Kelompok antivaksin ini sebenarnya tidak banyak, tetapi sangat viral. Informasi yang beredar bisa dilihat ribuan orang dan membuat masyarakat menjadi bingung,” jelas dr. Sukamto.
Kebingungan tersebut memicu masyarakat untuk menunda, bahkan menolak imunisasi.
Situasi ini diperparah oleh maraknya disinformasi yang tidak berbasis bukti ilmiah, serta dampak pandemi COVID-19 yang sempat membuat program imunisasi rutin terabaikan karena fokus penanganan pandemi yang masif.
Baca juga: BAB Anak yang Sering Berubah Bikin Cemas, Kadang Cair Lalu Keras, Normalkah?
Di sisi lain, tingginya mobilitas masyarakat turut mempercepat penyebaran kasus campak.
Perpindahan penduduk yang semakin mudah melalui transportasi darat, laut, maupun udara, meningkatkan risiko terjadinya outbreak atau kejadian luar biasa di berbagai daerah.
"Tenaga kesehatan, khususnya dokter, memiliki peran krusial dalam meningkatkan kembali cakupan imunisasi," tegasnya.
Merujuk pada penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien dapat meningkatkan keberhasilan vaksinasi hingga lebih dari 70 persen.
“Jika dokter mampu menjelaskan manfaat vaksin dengan baik, pasien cenderung akan menerima. Bahkan pasien yang awalnya menolak bisa berubah pikiran,” tambah dr. Sukamto.
Namun, ia mengingatkan pentingnya pemahaman tenaga medis terhadap vaksin. Informasi yang tidak tepat dari tenaga kesehatan justru dapat memperburuk kondisi.
Pihaknya kini mendorong penguatan edukasi secara menyeluruh, mulai dari level tenaga kesehatan hingga masyarakat luas, guna membentengi warga dari paparan hoaks yang merugikan kesehatan anak bangsa.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.