TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Maraknya peredaran obat keras tramadol ilegal di Jakarta menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya terhadap individu, tetapi juga kesehatan masyarakat secara luas.

Seorang dokter, peneliti Global Health Security, dan pakar epidemiologi Dr Dicky Budiman mengatakan tramadol bukanlah obat ringan yang bisa dikonsumsi sembarangan.

Secara medis, tramadol merupakan analgesik dari golongan opioid sintetis yang digunakan untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat.

Obat ini bekerja melalui dua mekanisme, yakni menekan persepsi nyeri serta memodulasi transmisi nyeri di sistem saraf pusat.

Karena bekerja langsung pada sistem saraf pusat, penggunaannya harus diawasi ketat tenaga medis.

“Karena ada efek pada sistem saraf pusat, maka tramadol ini termasuk dalam kategori obat keras yang harus digunakannya harus ada resep dokter,” jelas dr Dicky pada Tribunnews, Jumat (3/4/2026). 

Baca juga: Soroti Warga Lempar Petasan ke Penjual Tramadol, Ahmad Sahroni: Polisi Harus Lebih Gercep

Namun, yang menjadi persoalan adalah peredaran ilegal yang memungkinkan obat ini dikonsumsi tanpa indikasi medis dan tanpa pengawasan.

Kondisi ini dinilai sangat berbahaya, terutama bagi kelompok remaja dan dewasa muda yang sistem neurologisnya masih berkembang.

Risiko Akut: Dari Kantuk Berat hingga Henti Napas

Penggunaan tramadol secara sembarangan dapat menimbulkan berbagai risiko akut yang serius.

Salah satunya adalah depresi sistem saraf pusat yang menyebabkan kantuk berat hingga penurunan kesadaran.

Dalam kondisi tertentu, hal ini bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain, terutama jika pengguna sedang beraktivitas seperti bekerja atau berkendara.

Baca juga: BNN Soroti Maraknya Penyalahgunaan Tramadol, Bisakah Dijerat UU Narkotika? Ini Penjelasannya

Risiko yang lebih fatal adalah gangguan pernapasan.

“Depresi pernafasan yang berujung bisa fatal kalau dosis tinggi meninggal, fatal itu,” tegasnya.

Selain itu, tramadol juga memiliki risiko khas berupa kejang, bahkan pada dosis yang relatif rendah.

Gejala lain yang dapat muncul meliputi agitasi, tremor, peningkatan suhu tubuh (hipertermia), serta detak jantung yang cepat (takikardia).

Dampak Jangka Panjang: Gangguan Otak hingga Kerusakan Organ

Tidak hanya berdampak dalam jangka pendek, penggunaan tramadol secara terus-menerus juga dapat menimbulkan efek kronis.

Salah satunya adalah gangguan kognitif, seperti menurunnya daya ingat dan kesulitan berkonsentrasi.

Hal ini dapat berdampak besar pada kehidupan sehari-hari, terutama bagi pelajar atau mahasiswa.

Selain itu, penggunaan jangka panjang juga berkaitan dengan gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan.

Dari sisi organ tubuh, hati dan ginjal menjadi yang paling rentan mengalami kerusakan karena berperan dalam proses detoksifikasi.

Jika fungsi kedua organ ini terganggu, maka dampaknya bisa semakin luas terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Risiko Ketergantungan dan Gejala Putus Obat

Salah satu bahaya utama tramadol adalah potensi ketergantungannya.

Secara ilmiah, obat ini dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yang berperan dalam sistem penghargaan dan kesenangan.

“Ini rentan secara ilmiah terbukti bisa menyebabkan ketergantungan. Karena ada pelepasan dopamine di mesolimbic pathway yang akhirnya menyebabkan ketergantungan,” jelas dr. Dicky.

Akibatnya, pengguna akan mengalami toleransi, yakni kebutuhan dosis yang semakin meningkat untuk mendapatkan efek yang sama.

Ketika penggunaan dihentikan, muncul gejala putus obat seperti gelisah, nyeri otot, sulit tidur, hingga keringat berlebihan.

Kondisi ini sering kali membuat pengguna sulit berhenti dan terus mengonsumsi obat tersebut.

Ancam Kesehatan Masyarakat

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

Peredaran ilegal yang semakin luas menunjukkan adanya jalur distribusi yang terorganisir.

Selain itu, pengalaman global menunjukkan bahwa kemunculan satu jenis obat ilegal sering diikuti oleh peredaran zat lain.

Mulai dari opioid lain seperti morfin dan kodein, hingga benzodiazepin seperti diazepam dan alprazolam, serta psikotropika stimulan.

Seluruh kelompok ini memiliki potensi ketergantungan tinggi dan dapat memperburuk situasi.

Karena itu, dr. Dicky mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat untuk tidak mengonsumsi tramadol tanpa resep serta segera mencari bantuan jika muncul tanda penyalahgunaan.

Contact to : xlf550402@gmail.com


Privacy Agreement

Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.