SURYA.co.id, BANYUWANGI - Kenaikan harga kebutuhan produksi membuat usaha laundry di Banyuwangi semakin terjepit.
Setelah parfum dan plastik melonjak, kini giliran elpiji nonsubsidi ikut naik.
Meski biaya operasional membengkak, para pengusaha memilih menahan diri tidak menaikkan tarif lagi demi menjaga pelanggan agar tetap bertahan.
Wulan Vita, pemilik usaha Qta Laundry, mengatakan, tarif laundry regular telah naik dari Rp 7 ribu per kg menjadi Rp 8 ribu per kg kurang dari sebulan terakhir.
"Menaikkan harga sudah tidak bisa dihindarikan," kata Wulan kepada SURYA.co.id, Selasa (21/4/2026).
Setelah itu, usaha binatu masih harus kembali digempur oleh kenaikan gas elpiji non subsidi.
Seperti diketahui, usaha binatu merupakan salah satu sektor yang dilarang untuk menggunakan elpiji melon atau subsidi.
Karenanya, kenaikan harga elpiji nonsubsidi menjadi tambahan beban bagi pengusaha laundry.
"Elpiji dipakai untuk pengeringan dan setrika. Kebutuhannya lumayan. Untuk elpiji 12 kg itu habis untuk kebutuhan 2-3 hari, atau setara 200 kg cucian," ujar Wulan.
Meski demikian, para pelaku usaha laundry di Banyuwangi masih menahan untuk tak menaikkan tarif.
Tarif yang sudah terlanjur diubah sebelum sebulan membuat mereka khawatir kehilangan pelanggan apabila harga yang dipatok kembali dinaikkan.
"Untuk saat ini belum ada rencana menaikkan harga lagi karena mempertimbangkan kondisi ekonomi konsumen. Jika harga dinaikkan terus dalam waktu berdekatan, dikhawatirkan pelanggan akan semakin terbebani," imbuh dia.
Joko Supaat, pemilik usaha Bening Laundry, menambahkan, kenaikan harga kebutuhan produksi laundry terbilang tinggi.
Metanol untuk campuran parfum pakaian harganya naik dua kali lipat.
"Biasanya 400 ribu per jeriken. Sekarang 800 ribu," sambungnya.
Kenaikan yang juga tinggi juga terjadi pada komponen plastik.
Komponen itu juga naik dua kali lipat sejak ekskalasi di Timur Tengah terjadi.
Akibat kenaikan harga plastik, para pelaku usaha mengurangi penggunaannya.
Kantong plastik besar yang biasanya digunakan untuk membawa pakaian laundry kini ditiadakan. Pelanggan diminta untuk membawa kantong besar sendiri dari rumah.
Sehingga, pemilik laundry tinggal menyediakan plastik bening pembungkus pakaian setelah disetrika.
"Margin usaha semakin tipis. Di sisi lain, penyesuaian harga juga sulit karena konsumen sensitif terhadap kenaikan," katanya.
Hal tersebut belum ditambah dengan daya beli masyarakat yang turun.
Menurut mereka, pelanggan laundry relatif menurun dalam beberapa bulan terakhir, bahkan sebelum kenaikan tarif.
"Turunnya sekitar 30 persen. Itu sebelum harga naik. Kondisi sekarang lebih susah ketimbang saat pandemi Covid-19 dulu," tutur dia.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.