TRIBUNJAKARTA.COM - Kelompok pendukung Persija Jakarta dan Persib Bandung meluapkan kekecewaan setelag laga El Clasico Indonesia gagal digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).
Laga big match Persija Vs Persib resmi dipindahkan dari Jakarta ke Stadion Segiri, Samarinda pada Minggu 10 Mei 2026 kick off pukul 15.30 WIB.
Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno dan Sekretaris Umum Viking Persib Club (VPC), Arlan Sidha curhat soal pemindahan stadion tersebut.
Ketum The Jakmania, Diky Soemarno menyebut pihaknya paling kecewa atas keputusan tersebut.
Terlebih sudah tujuh tahun duel klasik Persija Vs Persib tidak digelar di Jakarta.
“Yang pertama, sudah pasti yang paling kecewa dengan situasi ini adalah Jakmania. Kenapa? Karena sudah tujuh tahun kami tidak menggelar pertandingan Persija vs Persib di Jakarta. Terakhir itu tahun 2019,” ujar Diky di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Menurut Diky, Jakmania sebenarnya telah berupaya menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi tuan rumah yang baik dan menjaga keamanan pertandingan di Jakarta.
Hal itu dibuktikan dengan hadirnya suporter klub-klub lain seperti dari Solo, Malang, Yogyakarta hingga Surabaya saat pertandingan bergulir di Jakarta.
“Mereka pulang dengan aman dan nyaman. Dari situ terlihat bagaimana Jakmania sangat konsen menjaga keamanan dan ketertiban, apalagi di kota sendiri,” kata Diky.
Meski kecewa, Diky mengaku tetap menghormati keputusan pemindahan venue yang diambil karena kondisi keamanan di Jakarta.
Menurutnya, situasi seperti ini bahkan sudah berulang hampir setiap musim sejak 2020.
Ia juga menyoroti ketidakjelasan venue yang kerap terjadi menjelang laga Persija kontra Persib.
Bahkan, Diky sempat menyinggung persoalan tersebut melalui media sosial kepada pihak pengelola GBK.
“Memang pada akhirnya kami harus menghormati keputusan ini. Keputusan yang tidak mudah bagi Jakmania, tetapi memang situasi seperti ini sudah berlangsung hampir setiap tahun setelah era 2020,” ucap Diky.
“Ternyata memang ada atensi dari pimpinan dan berbagai pihak yang khawatir pertandingan Persija vs Persib di Jakarta bisa menimbulkan efek yang luar biasa,” lanjutnya.
Meski laga dipindahkan ke Samarinda, Diky bersyukur pertandingan tetap dapat digelar dengan kehadiran penonton.
Menurutnya, Jakmania tetap memiliki hak untuk mendukung langsung Persija.
“Kami berharap walaupun tidak main di Jakarta, pertandingan tetap digelar dengan penonton. Insyaallah teman-teman Jakmania juga berhak untuk menonton,” ujarnya.
Diky menyebut pihaknya juga memiliki hubungan baik dengan suporter Borneo FC, Pusamania, sehingga tidak mempermasalahkan pertandingan digelar di Samarinda.
“Bagi kami main di Samarinda tidak ada masalah. Kami juga berhubungan baik dengan teman-teman Pusamania,” ujar Diky
Sementara itu, Sekretaris Umum Viking Persib Club (VPC), Arlan Sidha, menilai pemindahan venue tidak memiliki urgensi dan sarat pertimbangan non-teknis.
Keputusan tersebut, kata dia, merupakan kewenangan tuan rumah dan operator liga.
Namun Arlan mengaku tidak melihat adanya kondisi mendesak yang mengharuskan pertandingan dipindahkan dari lokasi semula.
Menurutnya, perpindahan venue yang dilakukan secara tiba-tiba di tengah kompetisi yang berjalan normal, justru menimbulkan kesan adanya persoalan non-teknis.
Arlan juga membantah adanya anggapan bahwa kondisi itu justru menguntungkan Persib.
“Sebagai suporter, tidak ada keuntungan signifikan. Justru ada kerugian karena jarak yang jauh dan kebutuhan adaptasi tim,” ujar Arlan dikutip dari TribunJabar, Rabu (6/5/2026).
Arlan juga menyoroti lokasi pertandingan yang digelar di kandang Borneo FC.
Menurutnya, jika tujuan pemindahan adalah netralitas, seharusnya dipilih stadion yang benar-benar netral, bukan markas tim pesaing.
Arlan menambahkan, alasan keamanan seharusnya menjadi tanggung jawab tuan rumah.
Keputusan mendadak seperti ini, kata dia, justru berpotensi memunculkan polemik serta pandangan negatif terhadap kesiapan operator liga maupun kedua klub.
Arlan juga menilai situasi ini mencerminkan perlunya evaluasi dari operator liga.
Setiap klub peserta liga seharusnya memiliki stadion kandang yang jelas agar tidak mengganggu penjadwalan, kecuali dalam kondisi darurat atau force majeure.
Tak cuma itu, Arlan juga mempertanyakan alasan tidak digunakannya Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), jika hanya untuk satu pertandingan sepak bola yang sesuai dengan fungsi stadion tersebut.
“Bukan berarti kami takut bermain di mana pun. Klub harus siap. Tapi skenario seperti ini tetap harus diperhitungkan,” katanya.
Terkait dukungan suporter, Arlan mengimbau Bobotoh untuk bersikap rasional dan mempertimbangkan risiko jika memaksakan hadir langsung ke Samarinda. Ia menyebut kondisi pertandingan yang digelar di kandang tim lain berpotensi menimbulkan kerawanan.
“Lebih baik menonton dari rumah atau nonton bareng saja, sambil tetap mendoakan dan berpikir positif,” ucapnya.
Arlan juga menegaskan bahwa narasi Persib enggan bermain di Jakarta tidak benar.
Menurutnya, yang menjadi perhatian utama adalah jaminan keamanan serta kejelasan dari operator liga, terutama karena keputusan pemindahan venue dilakukan secara mendadak, hanya beberapa hari sebelum pertandingan.
“Tim-tim papan atas seharusnya bermain di waktu yang bersamaan agar kompetisi lebih fair,” katanya.
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persija Jakarta, Tauhid Indrasjarief atau yang akrab disapa Bung Ferry, menjelaskan kronologi pemindahan venue laga.
Keputusan pemindahan venue laga diambil pada rapat bersama pihak kepolisian di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Direktur Utama I.League selaku operator kompetisi, Ferry Paulus, menyatakan pertandingan pekan ke-32 Super League 2025/2026 itu tidak bisa digelar di Jakarta karena faktor keamanan.
Bung Ferry menjelaskan pihak kepolisian sebelumnya telah melakukan pertemuan dengan Pemprov DKI Jakarta sebelum akhirnya diputuskan pertandingan tidak mendapat izin digelar di Jakarta.
“Pak Kapolda, Wakapolda dengan seluruh timnya beberapa hari lalu sempat datang ke Balai Kota untuk berdiskusi dengan gubernur. Dari situ akhirnya keluar keputusan bahwa kita tidak boleh menyelenggarakan pertandingan di Jakarta,” ujar Bung Ferry dikutip dari Tribunnews.com.
Setelah keputusan tersebut keluar, pihak liga langsung mencari Stadion alternatif.
Awalnya terdapat dua opsi yakni di Jepara dan Surabaya.
“Saya melaporkan ini ke liga. Liga kemudian mencari stadion yang kosong dan mereka bilang ada dua pilihan, Jepara atau Surabaya. Dengan pertimbangan untuk kepentingan tim, karena Surabaya dekat dengan bandara, saya pikir lebih baik pilih Surabaya,” cerita Bung Ferry.
Namun setelah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di Surabaya, termasuk Panpel Persebaya dan Bonek, pertandingan ternyata hanya diizinkan tanpa penonton.
“Ketika kami sudah koordinasi di sana, semuanya siap. Panpel bahkan pihak Persebaya dan Bonek juga siap membantu. Tapi ternyata kami hanya boleh menggelar pertandingan tanpa penonton,” jelasnya.
Bung Ferry mengatakan pihak liga kemudian memastikan bahwa apabila pertandingan tetap digelar di Pulau Jawa, laga Persija kontra Persib dipastikan tidak akan mendapatkan izin dengan kehadiran penonton.
Pilihan berikutnya sempat mengarah ke Bali. Namun opsi tersebut batal karena Stadion Kapten I Wayan Dipta akan digunakan Borneo FC sehari setelah pertandingan Persija vs Persib.
"Nah, saya tanya sama pihak Bali mereka tanding lawan siapa, ternyata lawan Borneo. Berarti stadion Borneo tidak dipakai dong. Dari situ saya coba izin untuk kontak Borneo,” tuturnya.
Setelah berkomunikasi dengan pihak Borneo FC dan kepolisian setempat, akhirnya Samarinda dipilih sebagai venue pertandingan karena dinilai memungkinkan menggelar laga dengan penonton.
“Saya coba tanya ke pihak kepolisian, kalau memang bisa menyelenggarakan di Samarinda dipersilakan saja. Pihak kepolisian juga akan bantu perizinannya dengan penonton. Jadi itu sejarahnya kenapa akhirnya kami menetapkan di Samarinda,” ucap Bung Ferry.
Contact to : xlf550402@gmail.com
Copyright © boyuanhulian 2020 - 2023. All Right Reserved.